BAB
I
PENDAHULUAN
Dewasa ini stres merupakan hal yang
lumrah terjadi pada setiap individu, dengan kehidupan zaman sekarang yang serba
maju di segala bidang menuntut manusia harus mengikuti arus perkembangan yang
serba pesat tersebut. Sehingga membuat setiap individu stres. Selain itu juga
stres bisa timbul karena hal-hal sepeleh, seperti kemacetan, tugas yang begitu
banyak dan pelajaran yang di anggap sangat sulit bagi setiap individu.
Tanda-tanda stres dapat muncul di tubuh dengan berbagai bentuk. Stres yang
dialami tiap orang berbeda-beda.
Gejala-gejala stres mencakup mental,
sosial, emosional, kognitif dan fisik. Hal-hal ini meliputi kelelahan, kehilangan
atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur dan
bangun lebih awal. Melepaskan diri dari alkohol, narkoba, atau perilaku
kompulsif lainnya sering merupakan indikasi-indikasi dari gelaja stres.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertia
stress
Stres
adalah suatu kondisi seseorang yang dinamis saat seorang individu dihadapkan
pada suatu tugas, tuntutan , atau sumber daya yang terkait dengan apa yang
dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan
penting.
Menurut
H. Norman Wright dalam bukunya yang berjudul Konseling Krisis-Membantu Orang
dalam Krisis dan Stres, menyebutkan bahwa stres adalah suatu tipe tindakan atau
situasi yang membebani seseorang dengan tuntutan-tuntutan yang berat atau
beretentangan yang mengacaukan keseimbangan tubuh yang dapat mengganggu atau
mengacaukan seseorang.[1]
B. Penyebab
stres
Stress di sebabkan oleh beberapa faktor-faktor,
yaitu faktor psikologis/ pribadi dan faktor sosial/lingkungan.
1. Faktor
pribadi
Stres
dapat terjadi di dalam pemikiran kita saja. Misalnya kita akan berkenalan
dengan seseorang, atau dengan tugas yang bembuat seseorang merasa sulit untuk
menyelesaikannya. Hal-hal inilah yang membuat kita menjadi stres sendiri.
Faktor
pribadi yang menyebabkan stres lainnya adalah kehilangan teman atau sahabat,
kehilangan sesuatu barang yang di anggap paling berharga bagi dirinya, kematian
orang yang di cintainya. Menurut Keith W. Sehnert, dalam bukunya yang sberjudul
mengendalikan stres dalam rumah tangga dan pekerjaan, yaitu selalu cenderung
untuk membuat rencana secara berlebihan, selalu merasa bersalah,terlalu menyibukkan
diri dan pikiran dan tindakan yang mengganda.[2]
2. Faktor
Sosial/lingkungan
Banyak
sekali faktor-faktor sosial yang bisa menimbulkan stres. Misalnya di lingkungan
pendidikan, yaitu dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen atau guru,
tidak adanya dukungan sosial atau teman, tidak adanya kesempatan berpartisipasi
dalam membuat keputusan di tempat kerja atau sekolah.
Menurut
Hadi P. Sahardjo, dalam bukunya yang berjudul Konseling Krisis dan Terapi
Singkat Pertolongan di Saat-saat Sulit bahwa penyeban atau pemicu stress adalah
stressor, yang berarti sebuah ancaman yang sangat nyata dan bisa dirasakan oleh
individu dalam mempertahankan stabilitas ( homeostasis )[3].
C. Jenis-jenis
stres[4]
a.
Eustress
Eustress adalah stres dalam bentuk positif. Ini adalah stres
yang baik yang dapat merangsang seseorang untuk melakukan berbagai hal dengan
lebih baik. Seseorang dapat merasakan situasi tertentu, seperti pekerjaan baru,
atau bertemu dengan idolanya. Jenis stres ini disebut sebagai eustress, dan
secara fisik dan psikologis tidak berbahaya. Sebaliknya, stres jenis ini dapat
memiliki efek positif pada kesehatan dan kinerja individu, setidaknya dalam
jangka pendek.
b.
Distress
Distress, atau apa yang biasa kita sebut sebagai stress, adalah
jenis stress yang memiliki efek negatif pada kesehatan fisik dan emosional.
Distress sering menghasilkan emosi yang intens, seperti kemarahan, rasa takut,
dan kecemasan atau panik. Terkadang, tekanan juga dapat terwujud dalam gejala
fisik, seperti palpitasi, sesak napas, dan peningkatan tekanan darah. Distress
atau 'stres buruk' selanjutnya dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis -
distres akut, gangguan akut episodik, dan penderita kronis.
c.
Distress akut
Distres akut
adalah jenis yang paling umum dari stres yang datang tiba-tiba, menjadikan kita
ketakutan dan bingung. Meskipun stres akut hanya berlangsung untuk jangka waktu
pendek. Misalnya tekanan emosional, sakit kepala, migrain, peningkatan denyut
jantung, palpitasi, pusing, sesak napas, tangan atau kaki terasa dingin, dan
keringat berlebihan.
d.
Distress Episodic Akut
Istilah 'stres
akut episodik' biasanya digunakan untuk situasi ketika stres akut menjadi
norma. Jadi, gangguan episodik akut ditandai dengan sering mengalami stres
akut. Orang-orang memiliki jenis stres ini sering menemukan diri mereka
berjuang untuk mengatur kehidupan mereka dan sering menempatkan tuntutan yang
tidak perlu dan tekanan pada diri mereka sendiri, yang akhirnya dapat
menyebabkan kegelisahan dan lekas marah.
Orang
yang menderita gangguan episodik akut selalu terburu-buru. Jenis stres dapat
menyebabkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, selain memburuknya
hubungan interpersonal. Gejala yang paling umum stres episodik akut adalah
lekas marah, sakit kepala terus-menerus, ketegangan, migrain, hipertensi, dan
nyeri dada.
e.
Distress kronis
Distress kronis
adalah stres yang bertahan untuk waktu yang lama. Stres kronis biasanya berasal
keadaan yang tidak dapat dikontrol. Kemiskinan, perasaan terperangkap dalam
karir menjijikkan, hubungan yang bermasalah, dan pengalaman trauma masa kecil
adalah beberapa contoh peristiwa atau keadaan yang dapat menyebabkan stres
kronis.
Stres
kronis sering menimbulkan rasa putus asa dan kesengsaraan, dan dapat
mendatangkan malapetaka pada kesehatan baik fisik dan mental. Kelelahan mental
dan fisik akibat stres kronis kadang-kadang dapat menyebabkan masalah kesehatan
seperti, serangan jantung dan stroke. Hal ini juga dapat menyebabkan depresi,
kekerasan, dan bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Mengobati stres kronis
tidak mudah, biasanya membutuhkan perawatan medis dan tehnik manajemen stres.
D. Dampak
stres[5]
Dampak
dari stres ada dua yaitu dampak negative dan positif. Dimana dampak yang
negatifnya yaitu, depresi, penyakit jantung dan lain sebagainya. Walaupun demikian, stres juga
mempunyai sisi positif. Direktur medis dari Fibromyalgia and Fatigue Centers, Jacob Teitelbaum, MD, menyebutkan bahwa
stres adalah hal yang sangat menyehatkan karena dapat memberikan tenaga yang
kamu butuhkan dalam menjalani hidup. Misalnya meningkatkan daya ingat, mempercapat
pemulihan pasca operasi dan mencegah flu dan pilek[6].
E. Cara
mengatasi stress
Di dalam buku Hipnoterapi: Cara Tepat & Cepat
Mengarasi Stres, Fobia, Trauma, dan Gangguan Mental lainya menyebutkan beberapa
cara mengatasi stres[7].
a. Memikirkan
hal-hal yang menarik,
b. Turunkan
tingkat aktivitas berpikir kita,
c. Ubalah
segera cara pandang kita dan jaga ucapan kita, dan
d. Serahkan
diri keapada Tuhan yang Mahakuasa.
Jadi saat kita terkena stress, bahkan depresi
sekalipun, kita membutuhkan sebuah inspirasi dalam hidup kita dengan mengubah
pola pikir atau cara pandang kita terhadap sesuatu di dalam pemikiran kita. Dan
saat itulah terjadi perubahan dasyat dalam hidup dan pemikiran kita.
BAB
III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dalam penulisan paper ini penulis dapat
simpulkan bahwa stresbisa timbul akibat
hal-hal sepele. Misalnya mwndapat nilai yang kurang memuaskan atau karena
kemacetan dan lain sebagainya. Sehingga stres adalah suatu kondisi seseorang
yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada suatu tugas, tuntutan , atau
sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang
hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Bahkan dengan kata lain stress
adalah
tanggapan atau reaksi tubuh terhadap berbagai tuntutan atau beban atasnya yang
bersifat non spesifik.
2. saran
Jangan
terlalu menganggap hal- hal sepele menjadi hal- hal yang berat, karena akan
menambah beban pikiran bagi kita. Kita juga harusjagalah kesehatan dengan
rajin berolahraga agar tubuh tetap sehat dan bugar.Apabila kita merasa stres,
hindarilah aktivitas yang dapat menyebabkan kejenuhan dalam berfikir, dan
sebaiknya kita harus melakukan liburan bersama orang-orang terdekat denga kita. Selain itu juga kita harus memiliki
dukungan yang bagus terhadap karir atau pekerjaan kita.
Daftar
Pustaka
Ardiningsih, Umi. “STRES: DAMPAK DAN UPAYA
PENANGGULANGANNYA,” http://pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/dampak-stres. (diakses, 16 september
2014, jam 15.10 WIB)
Hakim,
Andri.
Hipnoterapi: Cara Tepat & Cepat Mengarasi Stres, Fobia, Trauma, dan
Gangguan Mental lainya
(Jakarta selata: Transmedia Pustaka, 2010)
Laksono,
Trihttp://gstres.blogspot.com/2013/09/inilah-berbagai-tipe-jenis-stress-dan.htm(diakses
16 september 2014. Jam 15.45 WIB)
Maulia,
Vina. Stress, http://ipina10.blogspot.com/2013/05/makalah-stress.html.(diakses
19 September 2014, Jam 11.50 WIB).
Sahardjo,
Hadi P. Konseling Krisis dan Terapi
Singkat Pertolongan di Saat-saat Sulit, (Bandung: Pionir Jaya, 2006)
Soehnert,
Keith W. Mengendalikan Stres dalam Rumag
Tangga dan Pekerjaan,( Bandung: Kalam Hidup, 1981 )
Wright,
H. Norman. Konseling Krisis, Membangun
Orang dalam Krisis dan Stres, ( Malang: Gandum Mas 1996)
[1] H. Norman Wright. Konseling
Krisis, Membangun Orang dalam Krisis dan Stres, ( Malang: Gandum Mas 1996)
256.
[2] Keith W. Soehnert. Mengendalikan
Stres dalam Rumag Tangga dan Pekerjaan,( Bandung: Kalam Hidup, 1981 )
40-41.
[4]Tri Laksonohttp://gstres.blogspot.com/2013/09/inilah-berbagai-tipe-jenis-stress-dan.htm.diakses 16 september 2014. Jam 15.45 WIB
[5]Umi Ardiningsih,Stres:
Dampak Dan UpayaPenanggulangannya,http://pranaindonesia.wordpress.com/artikel-2/dampak-stres. (diakses16 september 2014,
jam 15.10 WIB).
[6]Vina Maulia, Stress, http://ipina10.blogspot.com/2013/05/makalah-stress.html. (diakses 19 September 2014, Jam 11.50 WIB).